Minggu, 14 Februari 2021

Peran Sentral Santri dalam Perputaran Peradaban Islam

 

 

Dalam perputaran roda pesantren ada doa yang dipanjatkan, dan ada harapan yang dilangitkan oleh orang-orang yang mengharapkan manisnya risalah Islam.  Dimana harapan dan do’a tersebut kadang menyatu dengan air mata untuk bersama-sama dilangitkan. Dan tidak sedikit pula harapan tersebut bercampur dengan keringat untuk bersama-sama di perjuangkan. Bahkan ada pula saatnya harapan dan do’a tersebut harus bercampur dengan darah untuk bersama-sama di pertahankan.

Maka dari do’a, harapan, air mata, cucuran keringat, dan cucuran darah tersebut lahirlah  santri yang dimana ia dilahirkan atas jerih payah ummat. Sehingga sudah semestinya seorang santri mengabdikan dirinya untuk ummat islam yang telah membesarkanya. Perlu kita ketahui pula bahwasanya pada zaman penyebaran Islam di Indonesia, santri dinilai mempunyai peran yang sangat penting. Peran mereka seakan menjadi senjata di garis depan dalam perjuangan penyebaran risalah islam.

Seorang santri di didik oleh kyainya untuk selalu menebar manfaat untuk ummat apapun keadannya, maka tidak heran jika manfaat yang  mereka tebarkan dapat dirasakan oleh masyarakat di manapun santri berada. Salah satu manfaat yang terlihat di dalam kacamata sejarah adalah di bidang sosial politik. Saat itu, pengaruh santri mampu menentukan sosial politik masyarakat. Sehingga mampu mempengaruhi opini publik dalam menanggapi hal-hal yang ada dalam percaturan kehidupan.

Jika kita analogikan dengan pembangkit listrik, pusat pembangkit listrik ada pada pesantren dengan kyainya, lalu kabel kabel yang menghubungkan antara kyai dengan masyarakat adalah santri-santri nya, sehingga dapat dipastikan bahwa masyarakat ketika itu selalu mendukung perjuangan yang dimotori oleh sang kyai, karena disamping wibawa dan keilmuwan seorang kyai sebagai motor penggerak, peran santri yang besar pun sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan dakwah sang kyai.

Bisa dibilang itulah peran sentral seorang santri, yaitu menjadi kabel-kabel penghubung antara sang kyai dengan masyarakat. Seiring berjalanya waktu pesantren-pesantren semakin menjamur dan berkembang dengan berbagai inovasinya, yang seharusnya bisa memberi peran di dalam perputaran kehidupan masyarakat. Namun patut disayangkan, peran santri yang sangat sentral itu belum terlaksana secara maksimal, sehingga kita belum bisa melihat perubahan yang begitu berarti.

Jika peran ini telah terlaksana secara maksimal maka sudah dapat dipastikan bahwa kyai sebagai motor penggerak akan mengulang sejarahnya yaitu menjadi tonggak perjuangan menegakkan risalah mulia ini. Maka tak heran jika seorang sejarawan terkenal Ahmad Mansur Suryanegara menjadikan santri sebagai salah satu unsur terpenting dalam penyebaran risalah Islam di Nusantara.

Melangkah sedikit menjauh dari Nusantara. Kita telah mengenal seorang ulama terkenal yaitu Imam Al Ghazali. Beliau adalah seorang ulama lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H . Ilmu beliau sangat mendalam di beberapa bidang diantaranya adalah fiqih, tasawwuf dan lain-lain. Beliau juga pernah diangkat menjadi rektor Madrasah Nidzomiyyah, yang dimana Madrasah itu adalah Madrasah yang didirikan oleh pemerintah pusat kala itu utuk mempelajari ilmu agama. Beliau juga menulis sebuah kitab yang luar biasa, karya beliau yang sangat fenomenal adalah Ihya’ ulumuddin yang dimana para sejarawan mengatakan bahwa buku itu menjadi titik awal gerakan ishlah yang beliau cita-citakan.

Ketika kita menilik lebih dalam, maka kita akan mendapati bahwasanya santri-santri beliau mempunyai andil yang sangat penting untuk menyebarkan dakwah kyai nya. Santri-santri beliau menyebar ke segala penjuru dunia untuk menyeru manusia kepada risalah Islam seperti yang diajarkan oleh gurunya. Hingga dengan tersebarnya ilmu-ilmu agama yang di bawa oleh santri- santri tersebut mampu melahirkan sebuah generasi yang sangat mulia. Dengan lahirnya sebuah generasi mulia tersebut maka mudah bagi ummat Islam untuk mengangkat kalimat Allah setinggi-tingginya. hingga sampai di satu titik dimana umat Islam menulis sejarahnya dengan tinta emas di atas percaturan dunia yaitu dengan membebaskan Al Aqsha dari kedazaliman manusia.

Maka tidak heran jika Dr. Madjid Irsan Al Kilani sampai mengatakan bahwasanya penaklukan Al Quds itu bukan karena jasa seorang Salahuddin al Ayyubi semata, melainkan karena lahirnya generasi yang telah disiapkan oleh Imam Al Ghazali beserta santri-santrinya jauh sebelum Shalahuddin lahir.

Sampai disini semakin jelas peran seorang santri yaitu menjadi pasukan di garis depan untuk gerakan ishlah (perbaikan) ummat islam yang digaungkan oleh ulama. Untuk itu saatnya kita kembali kepada tujuan mengapa pesantren didirikan dan mengapa santri dilahirkan. Karena sejarah telah banyak memberikan kita pelajaran. Andai saja ketika itu santri-santri Imam Al Ghazali tidak maksimal delam mengambil peran. 

Oleh Muhammad Luthfi Hibatullah

 

 

 

 

 



Waktu Pelaksanaan Shalat Jum'at (Syarh Hadits Umdat al Ahkam)

 


Waktu pelaksanaan shalat jum’at

Dari salamah bin al akwa’ r.a dan ia termasuk sahabat yang ikut dalam bai’at ridhwan, ia berkata, “Kami shalat jum’at bersama Rasulullah ﷺ , lalu kami pulang sementara tidak ada bayangan pada dinding-dinding yang bisa kami jadikan tempat untuk berteduh.”

Dalam lafazh lain dikatakan :

Kami melaksanakan shalat jum’at bersama Rasulullah ﷺ ketika matahari sudah tergelincir lalu kami pulang sambil mencari bayangan untuk berteduh

(HR. Bukhari 4168, Muslim 860)

Syarh Hadits

Salamah bin al akwa r.a berkata bahwasanya beliau pernah sholat jum’at bersama dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Mereka mengerjakan sholat jum’at lebih awal dari pada shalat dzuhur biasanya. Mereka shalat jum’at dengan memisahkan antara dua khutbah dan memisahkan antara khutbah dengan shalat. Setelah selesai mengerjakan shalat jum’at, mereka pulang menuju rumahnya masing-masing. Ketika mereka pulang menuju rumah tersebut, mereka tidak mendapati bayangan yang menaungi mereka.

Adapun riwayat yang kedua: Bahwasanya mereka sholat jum’at bersama Nabi Muhammad ﷺ ketika matahari tergelincir lalu mereka pulang.

Ikhtilaf diantara Ulama

Para Ulama telah sepakat bahwasanya akhir dari waktu shalat jum’at sama dengan akhir waktu dari shalat dzuhur. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang awal waktu untuk mengerjakan sholat jum’at.

Menurut imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i, awal waktu dikerjakan sholat jum’at adalah ketika matahari tergelincir sama dengan awal waktu sholat dzuhur. Mereka berdalil dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ :

ماَرَوَاهُ البُخَارِىُ : عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكِ قَالَ : (كَانَ رَسُولُ اللّه صلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُصَلِّى الجُمُعَةَ حِينَ تَمِيل الشَمسُ)

Anas bin Malik r.a berkata : Rasulullah saw menunaikan sholat jum’at pada saat matahari tergelincir (HR. Bukhari).

Adapun Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwasanya awal masuk waktu sholat jum’at adalah pada saat memasuki waktu sholat ‘ied. Beliau berdalil hadits nabi Muhammad ﷺ;

عَنْ جابِرقال : أنَّ النَّبِيَّ ﷺ كانَ يُصَلِّى الجُمُعةَ، ثُمَّ نَذهَبُ إلى جَمَالِنَا فَنرِحها ، حَتَّى تَزُولَ الشَّمسُ

Dari Jabir bin Abdillah r.a ia berkata : Rasulullah saw sholat jumat (bersama kami), kemudian kami kembali ke unta-unta kami dan mengisitirahatkan mereka hingga matahari tergelincir. (HR Muslim dan Ahmad)

Menurut syeikh Abdullah bin shalih alu bassam, waktu masuk sholat jum’at yang paling utama adalah setelah tergelincirnya matahari, karena hal tersebut yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw. dan sesuai dengan pendapat jumhur ulama’. Akan tetapi boleh pula mengajukan pelaksanaan sholat jum’at sebelum matahari tergelincir jika ada hajah seperti panas yang sangat menyengat dan tidak ada naungan untuk bernaung,ataupun ingin keluar untuk berjihad sebelum matahari tergelincir. Maka pada kondisi tersebut diperbolehkan mengajukan pelaksanaan shalat jum’at sebelum matahari tergelincir.

Faidah hadits

1. Disunnahkan untuk melaksanakan shalat jum’at lebih awal dari shalat dzuhur secara mutlak, baik itu pada musim panas maupun musim dingin. Adapun hadits tentang dianjurkan mengakhirkan sholat  sampai setelah matahari tergelincir hanya khusus untuk shalat dzuhur bukan shalat jum’at

2. Secara dzahir hadits diatas membolehkan melaksanakan shalat jum’at sebelum matahari tergelincir. Sebagaimana isi hadits diatas yang dimana mereka shalat, lalu mereka selesai sedangkan mereka tidak mendapati adanya naungan untuk bernaung.

Disarikan dari kitab taisir al ‘allam syarh umdat al ahkam karya Syeikh Abdullah bin shalih alu Bassam

oleh Muhammad Luthfi Hibatullah

 

 

Wani Nggetih (Berani berdarah-darah)


 


Waktu itu saya pernah menanyakan kepada KH Rohadi Agus Salim, Lc. S.Pd. I Pimpinan pondok Pesantren Ibnul Qoyyim. “Ustadz, sebenarnya atas dasar apa sih pondok ini didirikan?.” Beliau menjawab “Sebenarnya pondok ini didirikan lebih kepada karena keresahan Mbah Hisyam (pendiri pondok) atas umat.”

“jika begitu, lalu seperti apa idealnya seorang alumni pesantren seperti yang beliau cita-citakan?” tanyaku kembali. Beliau menjawab “Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini adalah orang-orang yang wani nggetih (berani berdarah) untuk bergelut di dunia dakwah. Akan tetapi tidak bisa semuanya kita setarakan,  karena memang potensi manusia itu berbeda-beda. Maka, yang paling penting adalah bagaimana seseorang alumni pesantren itu mampu bermanfaat untuk umat dimanapun ia berada.” Sambung beliau.

Jika kita mau merenungkan dari situ dapat kita ambil pelajaran penting, yaitu adalah; dimanapun kita berada, kita mempunyai tanggungjawab atas umat, seorang alumni pesantren harus mempunyai mindset untuk selalu memberikan manfaat untuk umat sesuai kemampuan kita masing-masing.

 Saya teringat pesan seorang ustadz dahulu ketika di pondok beliau pernah menyampaikan. “Jika kalian punya impian-impian besar maka  kalian harus pastikan satu diantaranya adalah impian untuk Islam dan kaum Muslimin.”

Peran Sentral Santri dalam Perputaran Peradaban Islam

    Dalam perputaran roda pesantren ada doa yang dipanjatkan, dan ada harapan yang dilangitkan oleh orang-orang yang mengharapkan manisnya r...