Dalam perputaran roda pesantren ada doa yang dipanjatkan, dan ada harapan yang dilangitkan oleh orang-orang yang mengharapkan manisnya risalah Islam. Dimana harapan dan do’a tersebut kadang menyatu dengan air mata untuk bersama-sama dilangitkan. Dan tidak sedikit pula harapan tersebut bercampur dengan keringat untuk bersama-sama di perjuangkan. Bahkan ada pula saatnya harapan dan do’a tersebut harus bercampur dengan darah untuk bersama-sama di pertahankan.
Maka dari do’a, harapan, air mata, cucuran keringat, dan cucuran darah tersebut lahirlah santri yang dimana ia dilahirkan atas jerih payah ummat. Sehingga sudah semestinya seorang santri mengabdikan dirinya untuk ummat islam yang telah membesarkanya. Perlu kita ketahui pula bahwasanya pada zaman penyebaran Islam di Indonesia, santri dinilai mempunyai peran yang sangat penting. Peran mereka seakan menjadi senjata di garis depan dalam perjuangan penyebaran risalah islam.
Seorang santri di didik oleh kyainya untuk selalu menebar manfaat untuk ummat apapun keadannya, maka tidak heran jika manfaat yang mereka tebarkan dapat dirasakan oleh masyarakat di manapun santri berada. Salah satu manfaat yang terlihat di dalam kacamata sejarah adalah di bidang sosial politik. Saat itu, pengaruh santri mampu menentukan sosial politik masyarakat. Sehingga mampu mempengaruhi opini publik dalam menanggapi hal-hal yang ada dalam percaturan kehidupan.
Jika kita analogikan dengan pembangkit listrik, pusat pembangkit listrik ada pada pesantren dengan kyainya, lalu kabel kabel yang menghubungkan antara kyai dengan masyarakat adalah santri-santri nya, sehingga dapat dipastikan bahwa masyarakat ketika itu selalu mendukung perjuangan yang dimotori oleh sang kyai, karena disamping wibawa dan keilmuwan seorang kyai sebagai motor penggerak, peran santri yang besar pun sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan dakwah sang kyai.
Bisa dibilang itulah peran sentral seorang santri, yaitu menjadi kabel-kabel penghubung antara sang kyai dengan masyarakat. Seiring berjalanya waktu pesantren-pesantren semakin menjamur dan berkembang dengan berbagai inovasinya, yang seharusnya bisa memberi peran di dalam perputaran kehidupan masyarakat. Namun patut disayangkan, peran santri yang sangat sentral itu belum terlaksana secara maksimal, sehingga kita belum bisa melihat perubahan yang begitu berarti.
Jika peran ini telah terlaksana secara maksimal maka sudah dapat dipastikan bahwa kyai sebagai motor penggerak akan mengulang sejarahnya yaitu menjadi tonggak perjuangan menegakkan risalah mulia ini. Maka tak heran jika seorang sejarawan terkenal Ahmad Mansur Suryanegara menjadikan santri sebagai salah satu unsur terpenting dalam penyebaran risalah Islam di Nusantara.
Melangkah sedikit menjauh dari Nusantara. Kita telah mengenal seorang ulama terkenal yaitu Imam Al Ghazali. Beliau adalah seorang ulama lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H . Ilmu beliau sangat mendalam di beberapa bidang diantaranya adalah fiqih, tasawwuf dan lain-lain. Beliau juga pernah diangkat menjadi rektor Madrasah Nidzomiyyah, yang dimana Madrasah itu adalah Madrasah yang didirikan oleh pemerintah pusat kala itu utuk mempelajari ilmu agama. Beliau juga menulis sebuah kitab yang luar biasa, karya beliau yang sangat fenomenal adalah Ihya’ ulumuddin yang dimana para sejarawan mengatakan bahwa buku itu menjadi titik awal gerakan ishlah yang beliau cita-citakan.
Ketika kita menilik lebih dalam, maka kita akan mendapati bahwasanya santri-santri beliau mempunyai andil yang sangat penting untuk menyebarkan dakwah kyai nya. Santri-santri beliau menyebar ke segala penjuru dunia untuk menyeru manusia kepada risalah Islam seperti yang diajarkan oleh gurunya. Hingga dengan tersebarnya ilmu-ilmu agama yang di bawa oleh santri- santri tersebut mampu melahirkan sebuah generasi yang sangat mulia. Dengan lahirnya sebuah generasi mulia tersebut maka mudah bagi ummat Islam untuk mengangkat kalimat Allah setinggi-tingginya. hingga sampai di satu titik dimana umat Islam menulis sejarahnya dengan tinta emas di atas percaturan dunia yaitu dengan membebaskan Al Aqsha dari kedazaliman manusia.
Maka tidak heran jika Dr. Madjid Irsan Al Kilani sampai mengatakan bahwasanya penaklukan Al Quds itu bukan karena jasa seorang Salahuddin al Ayyubi semata, melainkan karena lahirnya generasi yang telah disiapkan oleh Imam Al Ghazali beserta santri-santrinya jauh sebelum Shalahuddin lahir.
Sampai disini semakin jelas peran seorang santri yaitu menjadi pasukan di garis depan untuk gerakan ishlah (perbaikan) ummat islam yang digaungkan oleh ulama. Untuk itu saatnya kita kembali kepada tujuan mengapa pesantren didirikan dan mengapa santri dilahirkan. Karena sejarah telah banyak memberikan kita pelajaran. Andai saja ketika itu santri-santri Imam Al Ghazali tidak maksimal delam mengambil peran.
Oleh Muhammad Luthfi Hibatullah


